Apa yang mau kamu cari?
Kamu bisa mulai dari nama produk investasi atau topik tertentu.
Kamu bisa mulai dari nama produk investasi atau topik tertentu.
Apakah ini kesempatan emas untuk investasi di saham BBRI, BMRI, ASII dan UNTR? Simak analisis lengkapnya di sini!
Apakah ini kesempatan emas untuk investasi di saham BBRI, BMRI, ASII dan UNTR? Simak analisis lengkapnya di sini!
Bareksa.com - Pada Jumat (28/2), merupakan hari rebalancing untuk MSCI Index. Salah satu reksadana yang mengacu pada indeks MSCI ialah Syailendra MSCI Value Indonesia Index Fund (SMSCI). Menurut riset Syailendra Capital (28/2), pasca rebalancing hanya akan ada 10 emiten dalam SMSCI dan BBRI masih menjadi yang dominan (35,3%).
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat laba bersih Rp2 triliun, merosot 58% secara bulanan dan tahunan akibat 2 hal, yakni pendapatan bunga turun 12% secara bulanan dari Rp9,6 triliun menjadi Rp8,9 triliun. Sehingga margin bunga bersih (NIM) turun ke 6,15% pada Januari 2025, dibandingkan 6,63% pada Januari 2024. Beban provisi BBRI naik signifikan 365% secara bulanan dari Rp1,9 triliun, menjadi Rp5,6 triliun.
Hal ini membuat biaya kredit (cost of credit/CoC) naik dari 2% pada Januari 2024 menjadi 5,6% pada Januari 2025. Kenaikan provisi ini salah satunya didorong oleh adanya penghapusan di awal (front loading write off) terutama untuk kredit di segmen mikro yang terjadi sepanjang 2022-2023 kemarin seperti yang disampaikan oleh manajemen.
Dari segi valuasi, menurut Syailendra Capital, saham BBRI kini diperdagangkan pada pada rasio harga saham terhadap laba (P/E) 8,87x dan rasio harga saham terhadap nilai buku (P/B) 1,68x, lebih rendah dibandingkan mean 5Y : P/E 17,4x dan P/B 2,5x.
Laba bersih PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat Rp4 triliun, naik 4,5% secara tahunan dan 1% secara bulanan. Kinerja solid ini didorong oleh 2 hal yakni biaya kredit terjaga di level rendah yakni 0,52% pada Januari 2025, dibandingkan 0,65% pada Januari 2024. Likuiditas BMRI membaik yang tercermin dari kenaikan dana pihak ketiga (DPK) naik 15,1% secara tahunan dan rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) membaik ke 93,7% pada Januari 2025, dari 98,8% di Desember 2024.
Meski begitu, NIM BMRI turun ke 4,42% dan beban operasional naik 23% secara tahunan menjadi penekan dari pertumbuhan laba bersih. Dari segi valuasi, saham BMRI kini diperdagangkan pada rasio P/E 7,7x dan P/B 1,5x, lebih murah dibandingkan mean 5Y : P/E 12,3x dan P/B 1,9x.
Beli Syailendra MSCI Indonesia Value Index di Sini
Laba bersih PT Astra International Tbk (ASII) tercatat Rp8,2 triliun pada kuartal IV 2024, naik 1% secara tahunan, namun turun 18% secara kuartalan. Sehingga laba bersih ASII dalam setahun penuh di 2024 tercatat Rp34 triliun, naik 1%. Di sisi lain, performa laba bersih 3 segmen utama ASII relatif beragam, yakni :
- Segmen jasa keuangan tumbuh +10% secara tahunan pada kuartal IV dan naik 6% secara tahunan sepanjang 2024
- Segmen otomotif tertekan 2% secara tahunan
- Segmen alat berat dan pertambangan (UNTR) turun 5% secara tahunan
Melansir pernyataan manajemen, ASII berencana membagikan dividen Rp308 per saham (indikasi imbal hasil dividen (dividend yield) 6,7%, jika mengacu ke harga penutupan 27/2 di Rp4.590 per saham. Saat ini, ASII diperdagangkan pada valuasi P/E 5,5x, termurah dalam 10 tahun terakhir.
Laba bersih PT United Tractors Tbk (UNTR) tercatat Rp3,94 triliun pada kuartal IV 2024, minus 35% secara kuartalan dan turun 25,1% secara tahunan, sehingga laba bersih dalam setahun penuh di 2024 tercatat Rp19,5 triliun, turun 5,2%.
Kinerja yang relatif lemah ini diakibatkan pendapatan yang flat, turun 0,5% secara kuartalan, serta kenaikan beban pokok 2,1% secara kuartalan. Selain itu, terjadi pembalikan dari pendapatan lain-lain dari untung Rp1,3 triliun per kuartal III, menjadi rugi Rp1,1 triliun per kuartal IV 2024. Dari segi valuasi, saat ini saham UNTR diperdagangkan pada valuasi P/E 4,31x, level termurah dalam 10 tahun terakhir.
Beli Syailendra MSCI Indonesia Value Index di Sini
Riset Syailendra Capital memproyeksi dividen BBRI, BMRI, ASII dan UNTR dalam 3 skenario imbal hasil dividen 2025, dengan rasio pembayaran dividen jumbo.
Untuk skenario A misalnya, rasio dividen BBRI, BMRI, ASII dan UNTR yang masing-masing 80%, 60%, 62% dan 40%, diprediksi membagikan imbal hasil dividen (dividend yield) masing-masing 9,1%, 7,7%, 11,4% dan 8,9%.
Kemudian untuk skenario B, jika rasio pembayaran dividen turun jadi masing-masing 69,9%, 57,7%, 51,3% dan 36,5%, maka dividend yield BBRI, BMRI, ASII dan UNTR masing-masing 7,9%, 7,4%. 9,4% dan 8,2%.
Sumber : Riset Syailendra Capital
Super app investasi, Bareksa telah meluncurkan fitur Bareksa Saham bekerja sama dengan PT Ciptadana Sekuritas Asia pada Kamis (9/11/2023), di Jakarta. Fitur investasi saham ini melengkapi pilihan produk investasi di Bareksa sebelumnya, yakni reksadana, Surat Berhaga Negara hingga emas. Peluncuran fitur saham seiring target Bareksa mewujudkan misi menjadi satu aplikasi untuk semua investasi.
Dengan begitu, nasabah atau investor Bareksa bisa berinvestasi di beragam instrumen investasi dalam satu genggaman tangan di layar ponsel melalui aplikasi Bareksa. Pengguna bisa berinvestasi sesuai kebutuhan dan profil risikonya guna mencapai target keuangan atau kemerdekaan finansialnya.
(AM)
***
Ingin berinvestasi aman di saham dan reksadana secara online yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli saham klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi Bareksa di App Store
- Download aplikasi Bareksa di Google Playstore
- Belajar investasi, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.
Klik produk untuk lihat lebih detail.
Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.117,58 | - | |||||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.106,04 | - | - | ||||
Capital Fixed Income Fund autodebet | 1.886,76 | ||||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund | 1.080,62 | - | - | ||||
Capital Regular Income Fund Dividen | 1.025,06 | - | - | - | - |
ST014T2
Syariahsukuk tabungan
Imbal Hasil/Th
6,5%
Periode Pembelian
Berakhir dalam 13 hari
Jangka Waktu
2 tahun
Terjual 90%
ST014T4
Syariahsukuk tabungan
Imbal Hasil/Th
6,6%
Periode Pembelian
Berakhir dalam 13 hari
Jangka Waktu
4 tahun
Terjual 66%
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.