Bareksa.com – Menjelang pertemuan The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada 16-17 Desember 2015, imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN) pemerintah mulai merangkak naik. Berdasarkan Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), yield obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun kemarin (14 Desember 2015) melonjak menjadi 8,9 dibandingkan pekan sebelumnya 8,68.
Di pasar saham telah tercatat arus dana keluar (capital outflow). Sejak awal tahun arus dana keluar mencapai Rp29,16 triliun. Kondisi itu tidak terjadi di pasar obligasi. Kepemilikan investor asing malah bertambah Rp89,71 triliun, sementara persentase kepemilikan porsi asing terhadap total SUN yang beredar tetap 38,1 persen. (Baca juga : Fed Rate Hampir Dipastikan Naik Bulan Ini. Investor Asing Sudah Antisipasi? )
Hal ini salah satunya dikarenakan spread yield Indonesia terhadap surat utang pemerintah AS (US Treasury) masih tinggi dibanding negara Asean lain sehingga masih dianggap menarik. Spread yield merupakan selisih antara yield US Treasury dengan yield obligasi pemerintah di masing-masing negara dengan jangka waktu yang sama. Namun, tingginya nilai ini juga mencerminkan risiko yang dihadapi.
Grafik : Spread Yield SUN Negara ASEAN dengan AS (%)
Sumber : Investing.com, diolah Bareksa
Grafik : Gap Yield SUN 10 Tahun dan Inflasi YoY
Sumber : diolah Bareksa
Selisih antara inflasi tahunan (YoY/year-on-year) dengan yield SUN juga dapat membuat menarik. Dengan ekspektasi naiknya suku bunga The Fed yang mengerek yield SUN, gap juga akan melebar. Hal ini dapat menjadi daya tarik bagi investor di mana spread telah mencapai titik tertingginya pada November 2015.