Berita / SBN / Artikel

Obligasi Negara Indonesia Jadi Primadona Asia, Kenapa?

Bareksa • 25 Jul 2016

an image
Teller Bank Mandiri menghitung uang pecahan dolar Amerika di Jakarta - (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Sepanjang setahun terakhir, yield SUN bertenor 10 tahun Indonesia ini mencatat penurunan 1,2 persen

Bareksa.com - Obligasi negara Indonesia menjadi incaran bagi investor yang menanamkan modal di regional Asia, dengan mempertimbangkan imbal hasil (yield) yang menjanjikan. Tambahan lagi dengan adanya pemberlakuan aturan tax amnesty, semakin mendongkrak daya tarik obligasi negara Indonesia.

Berdasarkan data yang dikompilasi oleh Bareksa, surat utang negara (SUN) bertenor 10 tahun per 21 Juli 2016 menawarkan imbal hasil (yield) 7,11 persen, turun dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 8,26 persen.

Dalam sepuluh tahun terakhir, jika dibandingkan dengan obligasi sejenis yang diterbitkan negara lain di kawasan Asia, yield SUN Indonesia mencatat penurunan terdalam di antara obligasi regional lainnya yang menandakan harganya mengalami kenaikan paling tinggi. Yield SUN Indonesia turun 1,29 persen, dan hanya kalah dari Pakistan yang turun 1,67 persen.

Grafik: Perbandingan Perubahan Yield Obligasi Pemerintah Kawasan Asia (tanpa Jepang) Setahun Terakhir

Sumber: Trading Economics, diolah Bareksa.com

Turunnya yield ini, seiring dengan semakin besarnya arus dana asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, nilai dana asing di surat berharga negara (SBN) sudah meningkat 17,27 persen sejak awal tahun. Per 20 Juli 2016, nilai kepemilikan asing di SBN mencapai Rp654,97 triliun, dibandingkan Rp558,52 triliun per 30 Desember 2015. Artinya, ada dana asing masuk Rp96,45 triliun ke pasar obligasi negara sejak awal tahun.

Grafik: Pergerakan Yield SUN 10 Tahun April 2015-Juli 2016

Sumber: Bareksa.com

Salah satu faktor yang menjadikan obligasi negara Indonesia semakin menarik adalah sentimen pengampunan pajak (tax amnesty). Obligasi pemerintah tergolong instrumen yang aman, mudah dicairkan dan tersedia cukup besar untuk menampung dana repatriasi. "Katalis dalam negeri terutama tax amnesty, karena jika para wajib pajak declare dan terjadi repatriasi, destinasi dana ini akan ke instrumen pasar modal juga yang safe haven, likuid, dan sizable," ujar Manuel M. Maleaki, Head of Investment & Research PT Mega Asset Management, ketika dihubungi Bareksa.

Tidak hanya dari pihak asing, pemodal lokal, terutama perbankan, pun sudah mulai banyak membeli surat utang negara Indonesia. Dalam dua minggu terakhir tercatat arus dana dari perbankan ke obligasi pemerintah yang diperdagangkan melonjak hingga Rp68,76 triliun menjadi Rp430,3 triliun per 15 Juli 2016. (Baca juga: Antisipasi Tax Amnesty, Dalam Dua Minggu Bank Beli SBN Rp68 Triliun)

Di samping itu, ada faktor lain yang mendorong pasar obligasi Indonesia semakin menarik yakni dari kondisi ekonomi. Tekanan inflasi tahun ini cukup rendah sehingga dapat mendukung harga obligasi. Inflasi tahunan (year on year) per Juni 2016 menurut Badan Pusat Statistik Indonesia sebesar 3,45 persen, lebih rendah daripada target yang dicanangkan dalam anggaran pemerintah (APBN-P 2016) sebesar 4 persen.

Bila dibandingkan dengan kondisi di negara Asia lainnya, selisih (spread) antara yield obligasi pemerintah dan inflasi Indonesia cukup besar. Semakin besar spread ini, maka obligasi memberikan potensi keuntungan yang semakin tinggi bagi investor.

Grafik: Perbandingan Spread Antara Yield Obligasi dan Inflasi di Regional

Sumber: Trading Economics, diolah Bareksa.com

Tentu saja negara-negara emerging market di Asia Tenggara menjadi tujuan investasi bagi pemodal yang negaranya memberikan imbal hasil negatif, seperti Eropa dan Jepang. Wajar saja bila Indonesia menjadi primadona, didukung dengan kondisi aturan yang baik, kebijakan pemerintah untuk mendorong infrastruktur, dan kondisi ekonomi yang cukup stabil.